Apakah Allah Tuhan yang Suka Mengancam dan Menghukum?
Meluruskan Cara Pandang dalam Dakwah Islam
Tidak sedikit umat yang merasa dakwah hari ini terlalu menakutkan. Neraka lebih sering disebut daripada rahmat, ancaman lebih keras daripada harapan. Akibatnya, sebagian orang merasa jauh dari agama, bukan karena menolak Islam, tetapi karena cara penyampaiannya terasa menekan dan menakut-nakuti. Lalu muncul pertanyaan penting: apakah benar Allah adalah Tuhan yang suka mengancam dan menghukum?
Allah Memperkenalkan Diri-Nya dengan Rahmat
Jika kita membuka Al-Qur’an, hampir setiap surat diawali dengan kalimat:
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.”
(Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm)
Ini bukan kebetulan. Allah sendiri memilih memperkenalkan Diri-Nya dengan sifat rahmat, bukan murka. Bahkan dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman:
“Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ayat dan hadis ini menegaskan bahwa dasar hubungan Allah dengan hamba-Nya adalah kasih sayang, bukan ancaman.
Lalu Mengapa Ada Ayat Tentang Azab?
Al-Qur’an memang berbicara tentang azab dan hukuman. Namun, konteksnya bukan untuk menakut-nakuti tanpa arah, melainkan sebagai peringatan agar manusia tidak merusak dirinya sendiri dan tatanan kehidupan. Ancaman dalam Al-Qur’an berfungsi seperti rambu lalu lintas—bukan untuk membenci pengendara, tetapi untuk menjaga keselamatan.
Allah SWT berfirman:
“Dan tidaklah Kami mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”
(QS. Al-Isra’: 15)
Artinya, hukuman tidak datang tiba-tiba. Ia selalu didahului oleh penjelasan, peringatan, dan kesempatan untuk berubah.
Dakwah Bukan Teror Psikologis
Ketika dakwah hanya menonjolkan ancaman, neraka, dan hukuman tanpa keseimbangan rahmat dan harapan, maka dakwah kehilangan ruhnya. Rasulullah ﷺ sendiri berdakwah dengan kelembutan, empati, dan kasih sayang.
Allah SWT menegaskan:
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka.”
(QS. Ali ‘Imran: 159)
Dakwah yang benar bukan membuat umat takut mendekat kepada Allah, tetapi takut kehilangan hubungan dengan-Nya.
Antara Takut dan Harap: Keseimbangan Iman
Islam tidak menghapus rasa takut, tetapi menempatkannya secara proporsional. Takut tanpa harapan melahirkan keputusasaan. Harapan tanpa tanggung jawab melahirkan kelalaian. Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan antara khauf (takut) dan raja’ (harap).
Allah SWT berfirman:
“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini menunjukkan bahwa pintu kembali kepada Allah selalu terbuka, bahkan bagi mereka yang merasa paling jauh.
Dakwah yang Menghidupkan, Bukan Menjauhkan
Dakwah seharusnya membuat umat merasa dipeluk, bukan dihakimi. Merasa dibimbing, bukan ditakut-takuti. Ketika seseorang memahami bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Pengampun, Maha Mengetahui proses, dan Maha Adil, maka ibadah lahir dari cinta dan kesadaran, bukan keterpaksaan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Mudahkanlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah prinsip dakwah yang relevan sepanjang zaman.
Penutup
Allah bukan Tuhan yang gemar mengancam dan menghukum. Dia adalah Tuhan yang Maha Pengasih, yang memberi peringatan agar manusia selamat, bukan celaka. Dakwah yang hanya menakut-nakuti justru menyempitkan makna Islam. Sementara dakwah yang menyeimbangkan peringatan dengan rahmat akan melahirkan umat yang sadar, tenang, dan bertumbuh dalam iman.
Islam hadir bukan untuk meneror jiwa, tetapi untuk menyelamatkannya.