Isra Mi’raj: Shalat sebagai Jalan Pulang Seorang Hamba

Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan sekadar mengingat sebuah peristiwa agung dalam sejarah Islam. Lebih dari itu, Isra Mi’raj adalah pesan spiritual yang terus hidup, mengajak setiap muslim untuk kembali menata hubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui shalat yang baik dan benar. Perjalanan malam Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (Isra), lalu naik menembus lapisan-lapisan langit hingga Sidratul Muntaha (Mi’raj), pada akhirnya bermuara pada satu perintah utama: shalat. Ini menunjukkan bahwa puncak perjalanan ruhani bukanlah pengalaman luar biasa semata, melainkan ketaatan yang istiqamah dalam ibadah sehari-hari. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45) Ayat ini menegaskan bahwa shalat sejatinya memiliki daya pembentuk akhlak. Shalat yang dilakukan dengan kesadaran dan kekhusyukan akan melahirkan ketenangan jiwa, kejernihan hati, serta perilaku yang penuh kasih sayang. Jika shalat belum memberi pengaruh dalam sikap dan perbuatan, maka yang perlu diperbaiki bukanlah shalatnya semata, tetapi kehadiran hati di dalamnya. Dalam pandangan tasawuf, Isra Mi’raj dipahami sebagai peta perjalanan ruhani manusia menuju Allah. Isra melambangkan hijrah batin—perpindahan hati dari keterikatan dunia menuju tujuan ilahi. Sementara Mi’raj adalah pendakian jiwa melalui proses penyucian diri (tazkiyatun nafs), meninggalkan sifat-sifat tercela, hingga mencapai kedekatan dengan Allah. Setiap tahapan dalam Mi’raj mengajarkan proses pendewasaan ruhani: kesadaran akan fitrah, kesabaran, pengendalian hawa nafsu, pencarian ilmu, kelembutan dalam berdakwah, keteguhan iman, hingga kemurnian tauhid. Puncaknya adalah Sidratul Muntaha, simbol kedekatan tertinggi seorang hamba dengan Rabb-nya. Rasulullah SAW bersabda: الصَّلَاةُ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِ “Shalat adalah mi’raj-nya orang beriman.” (HR. Al-Baihaqi) Hadits ini mengingatkan bahwa setiap shalat yang kita dirikan adalah kesempatan mi’raj harian. Saat berdiri menghadap kiblat, sejatinya kita sedang meninggalkan kesibukan dunia untuk hadir sepenuhnya di hadapan Allah, mengadu, memohon, dan memperbaiki diri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۝ الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خَاشِعُوْنَ “Sungguh beruntung orang-orang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1–2) Kekhusyukan dalam shalat inilah yang melahirkan akhlak mulia. Dari shalat yang hidup, lahir kesabaran, kejujuran, empati, dan kasih sayang—nilai-nilai yang menjadi inti ajaran Islam. Rasulullah SAW pun menegaskan: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi) Melalui momentum Isra Mi’raj, mari kita jadikan shalat sebagai jalan pulang seorang hamba—jalan untuk kembali kepada fitrah, kepada ketenangan, dan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan hanya memperbaiki bacaan dan gerakan, tetapi juga menghadirkan hati, kesadaran, dan dampak nyata dalam kehidupan sosial. Semoga shalat yang kita dirikan mampu membentuk pribadi yang berakhlak baik, penuh kasih sayang, serta menjadikan Islam benar-benar hadir sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Bagikan Tulisan Ini