Hakikat Beragama Untuk Hidup
Memahami Esensi Islam: Beragama untuk Hidup, Bukan Hanya untuk Setelah Mati
Sering kali, tanpa sadar kita menganggap bahwa agama hanyalah sekadar "tiket" untuk mendapatkan surga setelah kita meninggal nanti. Akibatnya, praktik keagamaan hanya menjadi rutinitas yang terpisah dari realitas kehidupan sehari-hari.
Namun, mari kita bedah kembali makna dari agama itu sendiri. Jika kita menelusuri akar bahasanya, kita akan menemukan sebuah kebenaran yang indah: agama diturunkan untuk kehidupan kita saat ini, selagi kita masih bernapas.
Tiga Akar Kata yang Mengubah Cara Pandang Kita
Untuk memahami esensi ini, mari kita renungkan makna dari tiga istilah yang sering kita gunakan:
Agama (Sistem yang Mencegah Kekacauan)
Dalam bahasa Sansekerta (अगम), kata ini berasal dari dua suku kata: "a" yang berarti 'tidak', dan "gama" yang berarti 'pergi' atau 'kacau'. Secara etimologis, agama berarti "tidak kacau". Ia adalah sebuah sistem atau ajaran yang memberikan keteraturan, petunjuk, dan tatanan agar hidup manusia tidak tersesat atau berantakan.
Ad-Din (Tatanan Kehidupan)
Dalam literatur Islam, kita menggunakan istilah Ad-Din. Secara etimologi, kata ini merujuk pada sistem hidup, tatanan masyarakat, dan jalan yang mengatur perilaku serta pandangan hidup seseorang agar selalu tunduk dan patuh kepada Allah SWT.
Islam (Jalan Menuju Keselamatan)
Secara etimologi, kata Islam berasal dari akar kata bahasa Arab "Salima" yang berarti selamat, sentosa, dan damai. Dari sana terbentuklah kata "aslama", yang bermakna menyerahkan diri, tunduk, dan patuh. Secara harfiah, Islam adalah tindakan berserah diri kepada Tuhan demi meraih keselamatan dan kedamaian.
Kesimpulan: Beragama Adalah Manual Kehidupan Saat Ini
Jika kita merangkum ketiga makna di atas, benang merahnya sangat jelas: Agama (khususnya Islam) adalah aturan dan jalan yang menghantarkan kita pada keselamatan, kedamaian, dan kesentosaan.
Ini membawa kita pada satu sintesis penting: Beragama itu untuk hidup, bukan hanya setelah mati. Agama adalah petunjuk operasional (manual) untuk sekarang. Ia mengatur bagaimana kita berbisnis agar tidak menipu, bagaimana kita bertetangga agar rukun, bagaimana kita berkeluarga agar harmonis, dan bagaimana kita mengelola hati agar tidak mudah stres.
"Agama tidak hanya menjanjikan kedamaian di akhirat, tetapi mewajibkan kita menciptakan kedamaian di dunia nyata saat ini."
Sebuah Muhasabah untuk Kita Semua
Sebagai jamaah Masjid Al Amin Semplak dan sebagai umat Islam pada umumnya, mari kita jadikan ini sebagai bahan renungan bersama.
Coba kita evaluasi sejenak:
Jika hidup kita terasa tidak selamat...
Jika hati kita selalu gelisah dan tidak damai...
Jika keseharian kita jauh dari rasa sentosa dan sejahtera...
Sepertinya, harus ada yang diperbaiki dari cara kita beragama. 😍
Mungkin selama ini kita baru mempraktikkan agama sebagai ritual, belum menjadikannya sebagai Ad-Din (sistem kehidupan) yang menata hati dan keseharian kita agar tidak gama (kacau).
Mari kita makmurkan hari-hari kita dengan terus belajar dan memperbaiki diri. Semoga melalui pemahaman yang benar ini, hidup kita senantiasa dilimpahi keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan oleh Allah SWT. Aamiin Ya Rabbal Alamin.