Jangan Berisik Di Jalan

Saya sering mikir kenapa umat yang literasinya makin tinggi justru emosinya makin tipis. Padahal kita hidup di tradisi ilmu, Ikhtilaf itu bukan anomaly tapi heritage , Ulama beda pendapat sejak dulu dan dunia nggak runtuh karenanya. Masalahnya bukan beda , Tetapi cara menyikapi itu yang beda. Hari ini, perbedaan pendekatan langsung dibaca sebagai ancaman?" Yang beda sedikit dicap, yang nggak satu gaya dianggap keluar jalur," Diskusi yang harusnya tabayyun berubah jadi trial, Bukan cari hikmah tapi cari celah. Sebagai orang yang melek ilmu saya belajar satu hal: ilmu tanpa adab itu cuma ambisi intelektual. Dalil tanpa kebijaksanaan cuma alat legitimasi. Kita terlalu sering jatuh cinta pada posisi sendiri , sampai lupa kalau kebenaran itu lebih luas dari sudut pandang kita. Padahal dalam ushul yang zhanni itu ruang dialog, bukan medan perang. Ironisnya, semua ini sering dibungkus niat baik. Katanya ghirah , Katanya menjaga kemurnian." Tapi kalau yang terasa justru jarak dan ketegangan layak dipertanyakan: apakah ini benar-benar amar ma’ruf ??" atau cuma reaksi ego yang dikasih dalil "? Sebagai orang yang memilih jalur ilmu dan dakwah, saya makin yakin: kebenaran nggak pernah insecure. Ia nggak butuh teriak, nggak perlu menjatuhkan, nggak harus meniadakan yang lain. Yang dibutuhkan umat hari ini bukan lagi siapa paling benar, tapi siapa yang paling matang. Paling bisa menahan diri. Paling paham bahwa ukhuwah itu bukan seragam, tapi kesediaan untuk hidup berdampingan. Kalau umat mau maju, yang diperluas itu bukan klaim, tapi cara pandang. Bukan sekat, tapi kesadaran bahwa rahmat itu selalu lebih besar dari ego kelompok mana pun.

Bagikan Tulisan Ini