Apakah TAQWA itu?

TAQWA Kita sering mendengar kata ini. Lalu apakah kita sudah termasuk orang bertaqwa? Apakah hanya sebagai klaim mulut, karena kita mengklaim beragama Islam? Mari kita coba bedah lebih dalam. Secara etimologi (asal-usul bahasa), kata taqwa (تقوى) berasal dari bahasa Arab, yaitu dari akar kata kerja waqa - yaqi - wiqayah (وَقَى - يَقِي - وِقَايَةٌ). Makna dasar dari akar kata tersebut adalah menjaga, melindungi, membentengi, atau memelihara. Ditinjau dari asal kata di atas, taqwa adalah bentuk kata kerja yang harus dilakukan baik oleh perbuatan dan ucapan. Waqa - yaqi - wiqayah berarti menjaga, melindungi, membentengi, atau memelihara. Lalu bagaimanakah kita dapat menjaga, melindungi, membentengi, dan memelihara diri kalau kita belum tahu caranya? Tentunya pasti ada caranya, ada konsep, ada sistem agar itu terwujud. Untuk mengetahui caranya, kita harus tahu dulu yang menyebabkan kita berbuat atau berucap, siapa yang menggerakkan baik perbuatan atau ucapan kita. Tubuh manusia itu sarat dengan sistem, salah satunya sistem sebelum berucap dan bertindak. Sebelum kita berucap dan berbuat, pasti ada pemicunya, baik lewat indra pendengaran, penglihatan, indra perasa, penciuman, dan pendengaran, dan masing-masing ada alatnya di tubuh kita. Dari sinilah awal perbuatan dan ucapan terwujud. Lalu masuk ke pikiran, dari pikiran melalui syaraf sensorik masuk ke otak, dari otak ke syaraf motorik, memerintahkan alat tubuh kita bekerja. Tapi pikiran pun punya cara kerja juga. Pikiran adalah tempat mengambil keputusan. Dan "keputusan pikiran" dipengaruhi beberapa faktor. Faktor yang Memengaruhi Pikiran • Perasaan / rasa apapun, baik rasa fisik dan rasa nonfisik termasuk rasa cinta dan rasa benci. • Ego atau nafsu. • Kesadaran. Kesadaran Diri (Self-Awareness): Kemampuan untuk melihat dan menilai pikiran, tindakan, serta kekurangan atau kelebihan diri sendiri secara objektif. Sebelum pikiran mengambil keputusan, pastikan dulu pikiran sedang dikendalikan faktor apa? Dikendalikan faktor perasaankah? Dikendalikan faktor egokah? Atau dikendalikan kesadaran? Keputusan pikiran yang dikendalikan faktor ego dan faktor perasaan akan melahirkan keputusan yang kurang tepat. Tapi saat pikiran dikendalikan kesadaran, dia akan melahirkan keputusan yang jauh lebih baik. Kembali ke kata taqwa. Taqwa itu adalah perilaku dan perbuatan yang terkonsep dengan rapi agar perbuatan dan perilaku kita terjaga dan terlindungi dari hasil keputusan pikiran serta terpelihara dari akibat keburukan yang akan muncul. Dalam Qur'an, Allah selalu mengingatkan dan mewajibkan kita untuk menjadi taqwa, dan Allah memberikan cara mempelajarinya dan waktunya. Ini tertuang dalam surat: يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ Arti: "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa". Perintah shaum di sini bukan hanya tidak makan dan tidak minum, tapi lebih ke metode agar kita dapat mengenal diri dan tahu cara kerja faktor-faktor di atas, dan jangka waktunya pun sudah diperhitungkan. Jadi, taqwa itu perbuatan dan perilaku yang harus menjadi kebiasaan dalam kehidupan seorang muslim. يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَى وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُونَ Ya ayyuhalladzina amanuttaqullaha haqqa tuqatihi wa la tamutunna illa wa antum muslimun. Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim." (Qs Ali Imron - 102). Dan taqwa itu syarat menjadi muslim, dan menjadi muslim syarat untuk mati. Note: • Secara etimologi (asal-usul bahasa), kata Muslim (مسلم) berasal dari bahasa Arab dan merupakan bentuk isim fail (kata benda pelaku) dari kata kerja aslama-yuslimu (أَسْلَمَ - يُسْلِمُ) yang berarti orang yang berserah diri, tunduk, dan patuh.

Bagikan Tulisan Ini