Kembali ke Beranda
Berita Terkini
Isra Mi’raj: Perjalanan Ruhani Menuju Shalat yang Menghidupkan Jiwa
25 January 2026
Humas Masjid
Bogor, masjidalaminsemplak.com – Ahad pagi, 25 Januari 2025, Masjid Al Amin Semplak dipenuhi jamaah yang datang dengan satu niat yang sama: menimba hikmah dari peristiwa agung Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sejak pukul 07.45 WIB, suasana masjid terasa khidmat, seolah mengajak setiap hadirin untuk sejenak berhenti dari hiruk pikuk dunia dan menengok kembali kualitas hubungan dirinya dengan Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh Bapak Saiful membuka kegiatan dengan nuansa spiritual yang menenangkan. Acara kemudian dipandu oleh MC Bapak Wawan Hermawan, mengalir tertib hingga Ketua DKM Masjid Al Amin, H. Deni Irawan, secara resmi membuka peringatan Isra Mi’raj tersebut.
Dalam sambutannya, H. Deni Irawan mengajak jamaah untuk memaknai Isra Mi’raj sebagai momentum memperkuat hubungan batin dengan Allah. Menurutnya, kedekatan dengan Allah tidak berhenti pada ritual, tetapi harus melahirkan akhlak yang baik, sikap penuh kasih sayang, serta kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari. “Isra Mi’raj seharusnya membentuk pribadi muslim yang lembut hatinya dan indah perilakunya,” ujarnya.
Tausiyah utama disampaikan oleh KH. Edi Wahyudin Abdul Malik, Lc., dengan tema “Mari Kita Perbaiki Hidup Kita dengan Shalat yang Baik dan Benar.” Dalam penyampaiannya, penceramah mengajak jamaah untuk melampaui pemahaman Isra Mi’raj sebagai kisah perjalanan malam semata, menuju pemahaman yang lebih dalam tentang esensi spiritual peristiwa tersebut.
KH. Edi Wahyudin menegaskan bahwa puncak Isra Mi’raj bukanlah pada jauhnya perjalanan Rasulullah SAW, melainkan pada hadiah shalat yang Allah berikan langsung tanpa perantara. Shalat, menurut beliau, adalah jalan perjumpaan seorang hamba dengan Tuhannya, sekaligus ukuran sejauh mana seseorang benar-benar menghadirkan Allah dalam hidupnya.
Dalam perspektif tasawuf yang disampaikan, Isra Mi’raj dipandang sebagai peta perjalanan ruhani seorang pencari kebenaran. Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dimaknai sebagai hijrah hati—perpindahan dari keterikatan dunia menuju orientasi ilahi. Sementara pendakian Nabi melalui tujuh langit menggambarkan tahapan penyucian jiwa: mulai dari kesadaran akan fitrah, pengendalian hawa nafsu, pendalaman ilmu, hingga kemurnian tauhid.
Puncak perjalanan di Sidratul Muntaha menjadi simbol kedekatan tertinggi seorang hamba dengan Allah, sebuah kondisi batin yang hanya dapat diraih melalui keikhlasan, kerendahan hati, dan ketekunan dalam ibadah. Dari sanalah shalat ditetapkan sebagai mikraj harian bagi setiap mukmin—kesempatan spiritual yang terus terbuka bagi siapa saja yang ingin mendekat kepada Allah.
Melalui peringatan Isra Mi’raj ini, Masjid Al Amin tidak hanya menghadirkan pengajian seremonial, tetapi juga mengajak jamaah untuk melakukan mikraj batiniah masing-masing: memperbaiki shalat, membersihkan hati, dan menghadirkan nilai-nilai ilahi dalam setiap aspek kehidupan.
Karena pada akhirnya, Isra Mi’raj bukan sekadar peristiwa masa lalu, melainkan undangan abadi bagi setiap muslim untuk terus naik—dari ritual menuju makna, dari gerakan menuju kesadaran, dan dari shalat menuju akhlak yang hidup.