Tujuan Penciptaan Manusia: Ibadah sebagai Jalan Cinta dan Penyempurnaan Akhlak

Allah Subhanahu wa Ta‘ala menegaskan tujuan penciptaan manusia dan jin secara eksplisit dalam firman-Nya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat [51]: 56) Ayat ini sering dipahami secara normatif sebagai perintah ritual. Namun, dalam khazanah filsafat Islam dan tasawuf, makna ibadah jauh melampaui sekadar gerak lahiriah. Ia adalah inti eksistensi manusia, jalan kesadaran, dan proses penyempurnaan diri menuju Allah. Ibadah: Dari Makna Bahasa ke Kesadaran Eksistensial Secara etimologis, ibadah berasal dari akar kata Arab ‘abada–ya‘budu, yang bermakna tunduk, patuh, dan merendahkan diri. Dari akar yang sama lahir kata ‘abd (hamba), yaitu makhluk yang menyadari ketergantungan totalnya kepada Tuhan. Dalam perspektif filsafat Islam, manusia disebut ‘abd bukan karena kehinaan, melainkan karena kesadaran ontologis: manusia tidak berdiri sendiri, tidak memiliki keberadaan otonom, dan tidak berkuasa mutlak atas dirinya. Segala yang dimilikinya—hidup, akal, rasa, dan kehendak—adalah amanah. Tasawuf kemudian memperdalam makna ini: ibadah bukan sekadar kepatuhan hukum, melainkan penyaksian batin bahwa tiada daya dan upaya kecuali dengan Allah (laa hawla wa laa quwwata illa billah). Manusia sebagai Hamba dan Pemikul Amanah Dalam analogi sederhana, seorang hamba tentu memiliki tugas dari majikannya. Maka pertanyaan mendasarnya adalah: apa amanah utama manusia sebagai hamba Allah? Al-Qur’an dan Sunnah menjawabnya dengan satu kata kunci: rahmah (kasih sayang). Allah memperkenalkan diri-Nya bukan pertama-tama sebagai Yang Menghukum, tetapi sebagai: Ar-Rahman, Ar-Rahim Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kasih sayang Allah bersifat tanpa syarat, meliputi seluruh makhluk, bahkan sebelum mereka berbuat apa pun. Dalam kerangka tasawuf, rahmat ini adalah energi ilahi yang mengalir ke seluruh wujud. Maka manusia sebagai hamba tidak hanya diperintahkan untuk tunduk, tetapi juga menjadi medium penyalur kasih sayang Ilahi di bumi. Basmallah: Kesadaran Rahmah dalam Setiap Tindakan Anjuran memulai setiap perbuatan dengan Bismillahirrahmanirrahim bukan sekadar adab verbal, melainkan latihan kesadaran spiritual. Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan Bismillahirrahmanirrahim, maka terputus keberkahannya.” Dalam pandangan tasawuf, basmalah adalah penyelarasan niat: bahwa setiap gerak manusia—berbicara, bekerja, memimpin, mendidik—harus berangkat dari rahmah, bukan ego, bukan amarah, bukan kepentingan diri. Tanpa rahmah, amal kehilangan ruh. Ia mungkin sah secara hukum, tetapi kering secara makna. Akhlak: Buah Sejati dari Ibadah Inilah titik temu antara ibadah dan akhlak. Rasulullah ﷺ menegaskan: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Tasawuf memandang akhlak sebagai manifestasi batin. Seseorang yang benar ibadahnya akan tampak dalam sikapnya: lembut, adil, jujur, rendah hati, dan penuh kasih. Sebaliknya, ibadah yang tidak melahirkan akhlak adalah ibadah yang belum menembus hati. Islam sebagai Rahmat bagi Seluruh Alam Ketika manusia memahami ibadah sebagai jalan cinta, dan akhlak sebagai buahnya, maka Islam tidak lagi tampil sebagai sekadar sistem aturan, tetapi sebagai peradaban rahmah. Inilah makna hakiki: Rahmatan lil ‘Alamin Rahmat bagi seluruh alam semesta. Bukan hanya bagi yang seiman, tetapi bagi seluruh makhluk: manusia, alam, bahkan kehidupan yang tak bersuara. Jika nilai ini benar-benar dihidupi, maka yang lahir bukan ketakutan, melainkan kedamaian; bukan kekerasan, melainkan kesejahteraan; bukan perpecahan, melainkan sentosa dan harmoni. Penutup: Ibadah sebagai Jalan Menjadi Manusia Seutuhnya Dalam perspektif filsafat Islam dan tasawuf, ibadah bukan tujuan sempit, melainkan jalan menjadi manusia seutuhnya—manusia yang sadar asal-usulnya, memahami tugasnya, dan memancarkan kasih sayang Tuhannya di bumi. Di sanalah ibadah menemukan maknanya yang paling dalam: bukan sekadar sujud tubuh, tetapi tunduknya hati; bukan sekadar patuh hukum, tetapi hidup dalam cinta.TFI20012025

Bagikan Tulisan Ini