Nar (Neraka) dan Jannah (Surga): Geografis atau Psikologis?

Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta‘ala menggunakan istilah Nar dan Jannah untuk menggambarkan dua kondisi akhir yang sangat kontras bagi manusia. Kedua istilah ini tidak hanya sarat makna teologis, tetapi juga mengandung pesan mendalam yang layak untuk ditadabburi secara lebih luas, baik secara tekstual maupun kontekstual. Makna Etimologis Nar dan Jannah Secara etimologis, kata Nar berasal dari bahasa Arab al-nār (النَّار) yang berarti api, panas, atau sesuatu yang membakar. Api memiliki sifat panas, tidak nyaman, menyengsarakan, dan merusak. Karena itu, Nar selalu diasosiasikan dengan penderitaan, kesempitan, dan siksaan. Sebaliknya, kata Jannah dalam bahasa Arab berarti kebun atau taman yang rimbun dan tertutup. Kebun identik dengan kesejukan, kenyamanan, keindahan, dan kebahagiaan. Jannah merepresentasikan kondisi yang menenteramkan, menyenangkan, dan penuh kenikmatan. Kontras makna ini menjadi dasar utama bagaimana Al-Qur’an membangun pemahaman manusia tentang konsekuensi kehidupan. Nar dan Jannah dalam QS. Hud Ayat 106–108 Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman: “Maka adapun orang-orang yang sengsara, maka (tempatnya) di dalam neraka, di sana mereka mengeluarkan dan menarik napas dengan merintih.” (QS. Hud [11]: 106) Ayat ini secara eksplisit menyebutkan bahwa orang-orang yang celaka berada dalam kondisi Nar, yang digambarkan dengan napas tersengal dan rintihan. Menariknya, gambaran ini masih menggunakan karakteristik biologis: bernapas, menghela, dan merintih—yang secara logis berkaitan dengan tubuh yang hidup dan memiliki paru-paru. Allah kemudian melanjutkan: “Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sungguh, Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.” (QS. Hud [11]: 107) Lalu pada ayat berikutnya Allah berfirman: “Dan adapun orang-orang yang berbahagia, maka (tempatnya) di dalam surga; mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tidak ada putus-putusnya.” (QS. Hud [11]: 108) Frasa “selama ada langit dan bumi” menjadi titik refleksi penting. Ia seolah menegaskan dimensi keberlangsungan yang terkait dengan realitas kehidupan, bukan sekadar gambaran abstrak yang sepenuhnya terlepas dari pengalaman manusia. Nafas, Kehidupan, dan Pertanyaan Kritis Bernapas adalah ciri makhluk hidup. Bernapas membutuhkan paru-paru dan tubuh yang hidup. Maka muncul pertanyaan mendasar: Jika Nar dan Jannah digambarkan dengan karakteristik yang masih berkaitan dengan nafas, perasaan, dan kondisi eksistensial, apakah Nar (neraka) dan Jannah (surga) semata-mata bersifat geografis—sebuah tempat fisik—atau juga memiliki dimensi psikologis dan eksistensial yang dialami manusia? Pertanyaan ini semakin relevan jika kita mempertimbangkan konteks geografis Arab yang didominasi oleh gurun pasir. Dalam realitas tersebut, api dan panas adalah simbol penderitaan, sementara kebun adalah simbol kenikmatan tertinggi. Al-Qur’an berbicara kepada manusia dengan bahasa yang mereka pahami, melalui simbol-simbol yang dekat dengan pengalaman hidup mereka. Al-Qur’an dan Bahasa Perumpamaan Allah Subhanahu wa Ta‘ala menegaskan pentingnya tadabbur dalam memahami Al-Qur’an: “Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an? Sekiranya (Al-Qur’an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak pertentangan di dalamnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 82) Selain itu, Allah juga menyatakan bahwa Al-Qur’an penuh dengan perumpamaan: “Dan sungguh, telah Kami buatkan dalam Al-Qur’an ini segala macam perumpamaan bagi manusia agar mereka mendapatkan pelajaran.” (QS. Az-Zumar [39]: 27) Dan ditegaskan kembali: “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 43) Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa tidak semua makna Al-Qur’an bersifat literal semata. Banyak pesan ilahi yang disampaikan melalui amtsal (perumpamaan), agar manusia menggunakan akal, ilmu, dan kedalaman refleksi dalam memahaminya. Penutup: Dimensi Makna Nar dan Jannah Dengan demikian, Nar dan Jannah dapat dipahami tidak hanya sebagai destinasi akhir di akhirat, tetapi juga sebagai kondisi eksistensial yang mulai dirasakan manusia sejak ia masih bernapas dan hidup di dunia. Nar dapat hadir dalam bentuk kegelisahan, kesempitan batin, dan penderitaan akibat menjauh dari nilai ilahi. Sebaliknya, Jannah dapat dirasakan sebagai ketenteraman, kebahagiaan, dan kedamaian batin yang lahir dari ketaatan dan kedekatan kepada Allah. Al-Qur’an mengajak manusia untuk tidak berhenti pada pemahaman permukaan, melainkan terus bertadabbur, karena di sanalah hikmah Nar dan Jannah benar-benar menemukan maknanya.

Bagikan Tulisan Ini